YOU HAVE TO SEE THIS

Cause life is more than just following the river eve

Pidato Perpisahan Kelas IX

16.41 / Diposting oleh Billy Roger / komentar (0)

Om Swastyastu,

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, Bapak Ibu Guru serta staf pegawai yang saya hormati, teman-teman yang saya cintai dan adik-adik yang saya banggakan, selamat pagi.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat anugrahnyalah kita dapat berkumpul di sini.

Hadirin yang saya hormati, izinkanlah saya mewakili siswa kelas 9 menyampaikan sepatah dua patah kata dalam acara perpisahan kelas 9 SMPN 1 Denpasar tahun ajaran 2010/2011 ini.

Selama 3 tahun kami bersekolah, telah banyak sekali hal-hal yang kami lalui dan kami dapatkan, hingga akhirnya sekarang kami 177 siswa kelas 9 bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.

Kami ucapkan terimakasih kepada bapak ibu guru yang telah dengan sabar dan tidak kenal lelah membimbing kami selama 3 tahun hingga kami bisa seperti sekarang. Kami pun menyadari selama itu tentunya kami pernah membuat para guru kesal, marah maupun kecewa. Oleh karena itu kami menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga para guru selalu diberikan kesehatan dan kesejahteraan.

Untuk teman-teman tercinta, 3 tahun suka dan duka telah kita lalui bersama, akhirnya kini tiba saatnya untuk berpisah. Namun perjalanan kita belum berhenti sampai di sini, meskipun nanti kita akan menuju SMA masing-masing, teruslah berjuang untuk menggapai cita-cita kalian, dan jangan lupakan almamater kita, SMPN 1 Denpasar.

Untuk adik-adik tersayang, mungkin selama ini kami sempat melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati adik-adik. Kami mohon maaf untuk itu. Sebagai generasi penerus, teruslah kalian berjuang dan berprestasi untuk mengharumkan nama SMPN 1 Denpasar

Demikian dari saya, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Akhir kata semoga SMPN 1 Denpasar selalu jaya.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Label:

Cerpen (Kisah Cinta di Bawah Pohon Kelapa)

00.41 / Diposting oleh Billy Roger / komentar (0)

Kisah Cinta di Bawah Pohon Kelapa

Tiga hari lagi sudah ujian nasional SMA, aku sudah akan tamat dan harus segera mencari perguruan tinggi, namun hatiku masih serasa melayang-layang. Angin sepoi-sepoi berhembus meniup rambutku manja. Aku mendongakan kepalaku. Terlihat jelas olehku buah-buah kelapa yang masih hijau. Kembali aku terkenang pada Awan, pujaan hatiku. Kejadian itu memang sudah 3 tahun yang lalu, tapi masih terukir jelas di memoriku, bahkan sering terngiang-ngiang seperti sekarang. Bagaimana tidak, ketika kau melihat pujaan hatimu, yang selalu kau impikan, kau dambakan, kau nantikan setiap malam walau hanya lewat mimpi ambruk di depanmu, terjatuh ke jurang tak berdasar, yang tak bisa kautemui, sekalipun kau telusuri ujung-ujung dunia, sekalipun kau selami lautan terdalam, sekalipun habis sudah pasir di dunia dan bintang dilangit kauhitungi, dia tak akan kembali.

Aku ingat saat itu tanggal 13 April 2008, tiga hari sebelum ujian nasional SMP. Tapi suasananya benar-benar beda, sebentar lagi memang sudah ujian nasional, apalagi yang bisa membuat perempuan melupakan hal sepenting itu selain laki-laki. Ya, kalau sedang jatuh cinta memang yang jelek jadi bagus, yang buruk jadi cantik, dan yang tak enak jadi enak, apalagi kalau terbalaskan. Aku tidak mau kege-eran, namun aku merasa Awan, sang pujaan hatiku juga merasakan getaran yang sama seperti yang selama ini aku rasa. Semua itu berawal dari bulan lalu, sejak Awan yang tiap hari selama 3 tahun diam-diam selalu kupandangi di sekolah, dan bahkan kucuri fotonya dari denah kelas untuk kukagumi setiap malam, entah mengapa tiba-tiba seolah menghampiriku dan mendekatiku. Entah durian apa yang jatuh padaku tapi aku sangat menikmatinya. Akhirnya hubungan tanpa status itupun terus berlanjut hingga hari itu, 13 April 2008.

Hari itu sangat tak kuduga, Awan baru dibelikan motor baru dan ia mengantarkanku pulang dengan motornya tersebut. Aw! Sangat romantis, hatiku bagai ditumbuhi kembang setaman. Aku mengajak Awan masuk, tapi ia menolak. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku dan menggiringku ke bawah pohon kelapa tempat aku duduk sekarang ini.
Andai waktu bisa diputar, aku ingin sekali mengulang kembali saat itu. Untuk sekedar mengatakan “Bagaimana kalau kita duduk di bawah pohon pisang saja, atau mungkin pohon mangga, atau mungkin pohon cabai atau apapun selain pohon kelapa laknat ini” Tapi tetap saja, seberapapun aku mengandai, memohon dan menyembah pada sang dewa waktu, waktu tidak akan diputarkannya hanya untukku.
Kembali ke cerita, Awan menggandengku dan mengajakku duduk dengan mesra. Itu adalah hari terindah yang pernah kualami, karena mungkin setelah itu tidak akan ada hari indah seperti ini lagi.

“Re, Reina, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” katanya gugup. Hatiku berdegup tak karuan, rasanya seperti dilambungkan ke langit, tak perlulah lilin-lilin, musik atau apapun untuk membuat suasana menjadi indah, dengan kehadiran Awan pun sudah membuat halaman rumahku serasa surga dunia.
“Reina, sebenernya, aku, aku, aku suka sama kamu Reina…… Kamu mau gak jadi pacar” dan malapetaka itu pun datang. Brukk!! Tiba-tiba sebutir buah kelapa jatuh tepat di atas kepala Awan. Awan pun langsung ambruk, jatuh, roboh tepat di depan kedua mataku. Hatiku yang tadi sudah mau meluncur seperti roket langsung bagaikan ditarik ke lapisan terbawah bumi. 1, 2, 3 detik aku mematung. Darah mengalir deras dari kening Awan “Awaaaaannnnn!!!!!” Air mataku membanjir, mukaku langsung memerah, hatiku bagai dihujam beribu panah dan tanganku benar-benar penuh darah “Awaaan, banguun, aku mau jadi pacar kamu Awan, aku mau!” tapi jangankan menyahut Awan bahkan tak bergeming, darahnya terus mengalir dan kini membasahi bajuku. Ibuku langsung keluar rumah dan tetangga-tetanggaku berdatangan begitu mendengar teriakanku itu. Mereka membawa Awan ke rumah sakit…

Air mataku kembali bercucuran ketika ingat saat itu. Awan dinyatakan meninggal dunia karena tengkoraknya retak dan menusuk otak. Saat itu aku langsung berlari dari rumah sakit ke rumahku. Aku bentur-benturkan kepalaku ke pohon kelapa perenggut nyawa Awan, aku maki-maki dia, tapi pohon itu sama sekali tak bergeming, ia tetap diam dan tak mau sedikitpun menjatuhkan tiket untuk menyusul Awan. Kau tentu tahu apa yang kurasakan, jangankan menulis, membayangkannya lagi saja aku tak mau, karena itu akan membuatku semakin rapuh, mengingatkannku pada masa terkelam, terjatuh, terbawah dalam hidupku. Saat itu aku memang masih bisa mengikuti ujian nasional, masih bisa lulus, namun sampai sekarang hatiku masih terbawa Awan, ia yang entah dengan mantra apa merampasnya, dan kini membiarkannya terombang-ambing entah dimana. Tapi itu sudah 3 tahun yang lalu, aku tahu aku harus bangkit, aku harus mulai lagi hidupku yang baru, mungkin Awan hanya cinta monyetku.
Meskipun begitu aku masih sering termenung di sini, di bawah pohon kelapa ini, mungkin suatu saat aku akan bertemu Awan, hahaha…

Label: ,

Cerpen (Jangan Sombong)

00.39 / Diposting oleh Billy Roger / komentar (0)

Jangan Sombong

Ria tersenyum puas. Di kertas ulangan matematika yang digenggamnya tertera nilai 100.
“Ha, kalau begini terus aku pasti jadi ranking satu di kelas” gumam Ria. Tiba-tiba Dewi, teman sekelas Ria lewat di depannya.
“ Berapa nilai ulanganmu, Wi?” tanyanya dengan nada meremehkan.
“Ah, kecil.” ungkap Dewi malu-malu.
“O begitu, lain kali belajar lagi ya. Ulangan kali ini emang susah. Temen-temen aja banyak yang remidi” timpal Ria lagi. Dewi hanya tersenyum sambil berlalu.

Ya, Ria memang anak pintar jebolan olimpiade, di SDnya ia selalu meraih peringkat pertama. Tak pelak jika ia masuk sekolah ini, SMP 1 Bali yang tak lain merupakan sekolah paling favorit di Bali. SMP ini telah sukses mencetak lulusan yang melanglang buana sampai ke luar negeri, bahkan banyak yang menempati jabatan tinggi di pemerintahan. Tentunya yang bisa masuk di sekolah ini hanyalah orang-orang terpilih karena untuk masuk saja para calon siswa harus melewati berbagai macam tes. Sedangkan Dewi, teman sebangku Ria merupakan siswi yang kurang mampu. Ia diterima lewat jalur siswa miskin, namun banyak yang mengatakan ia diterima karena prestasi seninya.

Hari ini memang merupakan hari ulangan umum terakhir di SMP 1 Bali dan seminggu lagi sudah acara penerimaan rapor. Ria sangat yakin ia akan menjadi juara 1 di kelasnya bahkan umum. Tanpa belajar keras saja nilainya di bidang ekstata sudah tinggi-tinggi, meskipun agak kurang di bidang seni dan olahraga. Namun baginya itu tidak terlalu penting. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu saat penerimaan rapor. Tak terbayang I-Phone canggih keluaran terbaru hadiah dari orang tuanya jika ia berhasil merengkuh gelar itu nanti.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Penerimaan rapor dilaksanakan di halaman sekolah yang cukup luas. Ria makin senang karena namanya nanti akan disebut di hadapan kakak kelas yang rata-rata sudah ia kenal.
“Baiklah, langsung saja kita mulai pengumuman juara umum dari kelas 7. Juara ketiga jatuh kepada Ida Ayu Seruni Devi dari kelas 7B dengan total nilai 985.” tepuk tangan terdengar dan Ria tersenyum sambil ikut bertepuk tangan.
“Juara kedua jatuh kepada Riana Amelia Subrata dari kelas 7A dengan total nilai 1000.” tepuk tangan kembali terdengar. Namun Ria tidak mendengar apa-apa. Pikirannya melayang. Ia juara kedua? Lalu siapa juara satunya? Bukannya setiap ulangan nilainya selalu yang tertinggi? Bagaimana mungkin?
“Dan, juara pertama jatuh kepada…Putu Dewi Anjani dari kelas 7A dengan total nilai 1001.” tepuk tangan terdengar paling riuh. Mereka semua kagum pada Dewi. Namun tidak dengan Ria. Ia merasa marah dan tidak adil.
“Baiklah, para juara harap maju untuk mengambil hadiah. Perlu diketahui bahwa juara umum 1 dari masing-masing angkatan akan mendapat beasiswa selama satu semester”
“Tunggu!” sergah Ria nekat sambil maju menghadap wali kelasnya.
“Ini tidak adil? Bagaimana mungkin Dewi yang nilainya lebih kecil bisa mengalahkan aku? Ini pasti ada kesalahan!” semua murid langsung terdiam. Bu Sri, wali kelas 7A justru tersenyum.
“Ria, coba bandingkan rapor kamu dan rapor Dewi. Rapor kamu memang berisi beberapa nilai yang sangat tinggi namun beberapa juga jeblok. Tapi lihat Dewi, meskipun nilainya tidak ada yang setinggi kamu tetapi nilainya seimbang dan tidak ada yang jeblok. Lagipula selisih nilai kalian kan hanya satu.” Ria mengamati rapornya dan rapor Dewi. Ya, di rapornya memang banyak nilai 90 keatas namun tidak sedikit pula yang 80 kebawah. Sedangkan Ria, meskipun tidak lebih dari 90 namun semua nilai rapornya diatas 80. Kalau dipikir-pikir benar juga. Dalam pelajaran ekstata memang dia yang tertinggi namun Dewi juga tidak jeblok. Di bidang seni giliran nilai Dewi yang selalu tertinggi dan nilai Ria jeblok.

Ria baru sadar, selama ini ia terlalu sombong dan mengira sudah berada di atas angin. Padahal di atas langit masih ada langit. Sementara Dewi selalu rendah hati. Dewi tidak pernah meremehkan pelajaran lain. Dewi juga tidak pernah berbuat curang seperti saat Ria menjatuhkan minuman ke lukisan Andi secara segaja. Ria menyesal, kemana bakat analisanya yang tinggi? Apakah sudah ditelan oleh kesombongannya? Dewi siswa kurang mampu, tentu saja dia akan belajar mati-matian untuk dapat beasiswa itu! Lagipula jika Dewi suka pamer nilai seperti dirinya orang lain justru semakin akan terpacu untuk mengalahkannya. Tapi bukan Dewi yang salah. Ia sendirilah yang salah, mengapa ia bisa terlalu terlena sehingga lupa untuk berusaha maksimal. Melayanglah sudah I-Phone idamannya. Belum lagi ditambah rasa malu didepan teman-teman dan kakak kelas. Namun sekarang semangat dan ambisinya sudah meluap. Lihat saja, Riana Amelia Subrata pasti akan mengalahkan Dewi Anjani dan menjadi juara umum 1 di semester depan.

Label: ,

Naskah Pidato (Sekolah SBI)

20.44 / Diposting oleh Billy Roger / komentar (0)

Sekolah SBI Berpotensi Menimbulkan Ketimpangan Pendidikan?

Selamat pagi ibu guru dan teman-teman yang saya hormati. Sebelum memulai terlebih dahulu saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat anugrahnyalah saya dapat berdiri di sini.
Teman-teman sekalian, dunia pendidikan merupakan suatu hal yang tidak mungkin jauh dari kita, para pelajar. Tentunya topik-topik, permasalahan dan pro kontra di dunia pendidikan tidak akan pernah surut dan akan terus mengalir seiring dengan perkembangan zaman. Pada zaman globalisasi ini salah satu perkembangan dalam dunia pendidikan adalah mulai menjamurnya sekolah SBI di Indonesia. Sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar ini mulai digandrungi, namun tetap saja tentu akan menimbulkan berbagai masalah dan pro kontra, terutama dari segi biaya. Benarkah kualitas sekolah SBI jauh dari sekolah regular? Namun benarkah pula hanya siswa kaya dan banyak uang yang dapat bersekolah di sekolah bertaraf internasional ini? Oleh karena itulah, pada pagi hari ini saya akan menyampaikan pidato dengan judul “Benarkah Sekolah SBI Berpotensi Menimbulkan Ketimpangan Pendidikan?”
Teman-teman, sebelum membahas lebih lanjut tentunya kita harus memahami terlebih dahulu pengertian sekolah SBI. Kita semua pasti sudah tahu bahwa almamater kita tercinta, SMPN 1 Denpasar tidak lain merupakan salah satu sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) yang akan menuju sekolah bertaraf internasional. Namun apa sebenarnya sekolah bertaraf internasional atau yang lebih popular dengan nama SBI itu? Berdasarkan SK Kementrian Pendidikan Nasional, sekolah SBI merupakan sekolah bertaraf internasional yang telah memenuhi berbagai syarat-syarat khusus dan harus lulus tes, penilaian dan mendapatkan sertifikasi dari pemerintah pusat.
Sekolah SBI memiliki perbedaan yang sangat mencolok dari sekolah regular. Perbedaan tersebut dapat dilihat mulai dari proses penerimaan siswa barunya, tidak semua siswa dapat bersekolah di sekolah SBI dengan mudah. Para calon siswa harus terlebih dahulu lulus dalam tes potensial akademik (TPA), tidak hanya itu, para calon siswa juga wajib mengikuti berbagai tes seperti tes IQ dan tes psikologi yang juga memakan biaya. Sedangkan dari segi kurikulum dan materi sistem pembelajaran di sekolah SBI mengadopsi kurikulum asing lengkap dengan program-program berskala internasional seperti sister school atau pertukaran pelajar yang membutuhkan biaya besar. Tentu saja bahasa pengantar yang digunakan juga bukanlah bahasa Indonesia tetapi bahasa Inggris. Guru-guru di sana juga harus memiliki standar tersendiri, berbeda dengan sekolah regular. Yang terpenting sekolah SBI ditunjang oleh lahan dan fasilitas yang lengkap yang dapat menunjang seluruh kegiatan para siswa yang bisa dibilang sangat padat. Tetapi memang semua itu tidak sia-sia, sekolah SBI kerap dicap sebagai sekolah unggulan dan banyak diserbu oleh para orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya di sana. Sekolah SBI juga memiliki prestasi yang tidak main-main dan sering meluluskan orang-orang penting karena tentu saja itu sendiri merupakan salah satu persyaratan sekolah SBI. Sayangnya untuk memenuhi semua itu tentunya para siswa juga dikenakan biaya yang tidak sedikit. Meskipun pemerintah telah memberikan sejumlah beasiswa dalam bentuk dana BOS untuk seluruh siswa, tetapi tetap saja dana BOS tidak akan cukup untuk membiayai seluruh fasilitas dan biaya operasional sekolah. Belum lagi, adanya banyak berita miring tentang uang sogokan dan jalur belakang yang menodai citra sekolah SBI. Penerimaan siswa baru yang seharusnya hanya untuk siswa-siswa pilihan kini bisa dengan mudah dinikmati dengan rupiah seperti membeli makanan di restoran.. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang berpikiran bahwa sekolah SBI hanya dapat dimasuki siswa kaya yang memiliki banyak uang. Sedangkan siswa berpotensi yang sayangnya kurang mampu tidak bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Alhasil, terjadi sejenis ketimpangan pendidikan karena perbedaan status sekolah ini. Yang paling mempermasalahkannya adalah siswa kategori menengah yang tidak diterima di sekolah SBI, namun siswa kaya lain yang dari segi kemampuan masih dibawah dapat diterima. Tentu saja mereka akan protes. Lulusan sekolah SBI yang kebanyakan orang berada mendapat materi dan fasilitas yang berkualitas, selain itu kedepannya mereka lebih dipercaya dan lebih mudah diterima ke jenjang yang lebih tinggi karena cap SBI dalam ijazahnya. Sedangkan siswa sekolah reguler cenderung dinomorduakan dan meskipun sebenarnya mereka berpotensi, seringkali hanya karena fasilitas yang kurang memadai dan kurang mendalamnya materi pembelajaran bakat dan potensi mereka seringkali kurang terasah. Mereka juga sering disepelekan dalam event-event seperti lomba-lomba. Secara kasar dapat dikatakan, orang kaya bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas tinggi sedangkan orang miskin hanya mendapat pendidikan biasa saja. Akhirnya, jika berdasarkan latar belakang pendidikanya yang kaya menjadi pintar tetapi yang miskin tidak. Dari pendidikan akhirnya pun merambah ke tingkat sosial mereka. Lantas apa tindakan pemerintah dalam menanggapi semua ini?
Sesungguhnya, pemerintah melalui kementrian pendidikan nasional telah memikirkan masalah ini sejak mulai meresmikan sekolah SBI di Indonesia. Namun tetap saja belum membuahkan hasil yang memuaskan. Sekolah SBI masih dipermasalahkan. Apalagi setelah adanya demonstrasi dari masyarakat tentang sekolah SBI pada bulan Juli 2010 lalu. Untuk meratakan status siswa pemerintah telah mewajibkan 20% kuota penerimaan siswa baru di sekolah SBI untuk jalur siswa miskin. Namun tetap saja, berdasarkan data rata-rata penerimaan siswa baru di sekolah SBI, jalur siswa miskin hampir tidak pernah terisi. Hal tersebut disebabkan karena dalam pikiran masyarakat telah tercetak argumen bahwa sekolah SBI masih membutuhkan biaya yang sangat besar selain yang diberikan pemerintah, belum lagi pergaulan disana yang katanya elite, individu dan kebarat-baratan, persaingan yang ketat dan ditambah momok bahasa inggris yang menakutkan. Mereka takut mereka justru tidak mampu bersekolah disana, namun mereka juga ingin keadilan, pemerataan pendidikan sehingga semua siswa sama.
Lantas apa kesimpulanya? Pendidikan memang merupakan suatu hal yang sangat penting. Tanpa pendidikan kita akan kosong, tak bisa baca tulis. Namun benarkah hanya sekolah SBI yang bisa menyajikan pendidikan yang berkualitas? Dalam kasus ini sesungguhnya semua tergantung pada diri siswa sendiri. Banyak lulusan sekolah regular yang sukses ke depannya. Dan tidak sedikit pula lulusan sekolah SBI yang hanya mengandalkan warisan orang tua dan hanya segitu-segitu saja. Sekolah SBI memang memiliki fasilitas dan standar yang bisa dibilang di atas. Namun belum tentu sekolah regular tidak bisa berprestasi. Bukti nyatanya dapat kita lihat dari hasil UN 2010 lalu, peraih NEM tertinggi se Indonesia ukanlah dari sekolah SBI. Sedangkan siswa sekolah regular yang tidak lulus, itu karena mereka yang terlanjur menganggap diri mereka tidak mampu, dan selalu menyalahkan sekolah. Padahal kalau mereka mau belajar dan berusaha pasti juga akan berbuah manis. Satu hal lagi masalah yang hampir selalu menghinggapi sekolah SBI. Oknum-oknum yang kerap menyalahgunakan jatah penerimaan siswa baru dengan uang suapan atau bertindak nepotisme. Perlu diketahui bahwa sebenarnya tindakan itu sia-sia dan justru merugikan siswa, mendapatkan gelar dengan cap SBI namun kita tidak mendapat apa-apa. Sebab tujuan kita sekolah adalah untuk mencari ilmu, bukan gelar. Tidak perlu menyalahkan sekolah SBI sebagai penyebab ketimpangan pendidikan namun lebih baik kita kembali pada individu masing-masing, instropeksi diri sendiri. Jadi kesimpulanya, asal kita belajar dengan giat sekolah dimanapun tidak akan jadi masalah.

Label:

Resensi Buku

04.28 / Diposting oleh Billy Roger / komentar (0)




Judul Buku : Penilaian Terhadap Matahari, Manusia dan Makanan
Penulis : Andi Hakim Nasoetion dan Amini Nasoetion
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1983
Tebal Buku : 147 halaman

Sekilas jika sekedar melihat dari sampulnya mungkin kita akan mengira buku ini sejenis novel atau cerita pencerahan yang agak membosankan. Namun jika mulai membuka isi buku kita baru akan mulai menyadari manfaat yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya membantu dalam pelajaran di sekolah, buku ini juga dapat membantu pengembangan bisnis di bidang pertanian dan sangat berguna bagi masyarakat awam dalam menjaga kesehatan dan lingkungannya.
Buku berjudul Penilaian Terhadap Matahari, Manusia dan Makanan ini memang ditujukan oleh pengarangnya untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya energi matahari, makanan dan alam dalam kehidupan manusia. Mulai dari sejarahnya di zaman mesir kuno hingga sekarang dijelaskan secara padat namun menarik dan cukup jelas. Tidak seperti buku kedokteran yang rumit, buku ini mampu menerangkan berbagai macam penyakit dan tips-tips kesehatan lainnya secara sederhana. Tidak cukup disitu, didalamnya juga termuat kiat-kiat di bidang pertanian termasuk kehutanan, peternakan, perikanan dan cara-cara pemanfaatan hal-hal disekitar kita. Ini bisa kita lihat dari petunjuk waktu bercocok tanam yang tepat, jadwal pasang surut air laut, cara merawat ternak, pemilihan pupuk tanaman dan berbagai macam kreasi daur ulang serta cara-cara konservasi lingkungan. Ilustrasi- ilustrasi yang ditampilkan sedikitnya setiap dua halaman pun semakin menambah menarik buku yang dilengkapi dengan kamus ilmiah kecil di bagian belakang ini.
Kelemahan buku ini mungkin hanya dalam sampul dan judulnya yang agak kurang menarik, sehingga membuat pembaca enggan untuk membacanya jika tidak direkomendasikan terlebih dahulu.

Label:

Sinopsis Querypita

04.25 / Diposting oleh Billy Roger / komentar (0)

Sinopsis
Identitas Buku
• Judul buku : Querypita
• Pengarang : Primadonna Angela
• Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
• Tahun terbit : Jakarta, Desember 2007
• Jumlah halaman : 208

Ringkasan Buku
Querypita
Puspitasari atau dipanggil Pita merupakan seorang remaja yang berasal dari keluarga kurang mampu di Yogyakarta. Ayahnya hanyalah seorang guru SD dan ibunya membuka usaha jahit dan katering kecil-kecilan. Begitu lulus SMP ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di SMA Indonesia Raya di Bandung. Di sana ia tinggal di asrama dengan gratis. Untuk menambah uang saku ia membuat sebuah band bernama “Jalapeno”. Di sana ia berperan sebagai pemain gitar bas merangkap vokalis. Selain itu, ia juga kerja sambilan di tempat penyewaan buku milik Mbak Kristin, kenalannya.
Querido atau dipanggil Query merupakan anak orang kaya yang senang bermain biola. Namun, ia kurang mendapat kasih sayang dari orangtuanya. Orangtuanya cenderung memanjakannya dengan barang mewah tanpa memberikan kasih sayang. Itulah yang membuat dia muak dan ingin mencoba hidup mandiri dengan kabur dari rumah.
Query tertarik pada Pita saat melihatnya pentas di sebuah pesta pernikahan, begitu juga dengan Pita. Kemudian, mereka kembali bertemu di tempat penyewaan buku milik Mbak Kristin. Saat itu Query yang kabur dari rumah ingin melamar pekerjaan di tempat penyewaan buku milik Mbak Kristin. Pita tidak mengetahui bahwa nama panggilan Query di sekolah adalah Rido, anak orang kaya yang sering diceritakan teman-temannya.
Saat ayah Pita meninggal dunia, Pita kemungkinan besar putus sekolah dan kembali ke Yogya untuk mengurus ibu dan adiknya. Query dan teman-temannya pun membujuk Pita agar tetap tinggal di Bandung. Namun Pita tetap berangkat ke Yogya dengan ditemani Query. Awalnya Pita menolak namun karena Query mendesak akhirnya Pita pun menyerah dan pergi ke sana ditemani Query.
Sesampai di rumah orangtua Pita di Yogya, semua anggota keluarganya mengira bahwa Query adalah pacar Pita. Ibu Pita juga sangat mendukung hubungan Pita dengan Query. Namun hubungan Pita dengan Query sendiri justru semakin memburuk karena begitu banyak kesalahpahaman diantara mereka. Pita mengira Query sombong dengan memberi berbagai macam barang ke keluarga Pita. Sementara itu Query juga mengira Arin, pacar adik Pita adalah pacar Pita.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua kesalahpahaman, mereka dapat bersatu kembali. Pita memutuskan untuk tinggal di Bandung dan melanjutkan sekolahnya di sana atas desakan Query, teman-teman dan ibunya. Sementara itu, ibu Pita mendapat pekerjaan untuk membuat sebuah kursus membatik yang dimodali oleh orangtua Query. Orangtua Query juga telah sadar dan selalu meluangkan waktunya untuk dapat memberi kasih sayang kepada Query.

Label: